Sabtu, 25 Februari 2017

IMAM AL-HASAN IBNU 'ALI
CUCU DAN KEKASIH RASULULLAH

Kiranya cukup tinggi kedudukannya di dunia dan di akhirat, kemuliaan, pengorbanan, kesucian, ketenangan jiwa dan keselamatan perasaan, adalah akhlak yang mempesona dari cucu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam ini.Ia adalah putra Imam 'Ali dan Fatimah Zahra, saudara kandung Al-Husein, penghulu para syahid. Kedudukan akhlaknya yang tinggi diantara para Shiddiq dan Abrar, ia telah menolak kursi ke- khalifahan bila harus menumpahkan darah syahid. Ia lebih mengutamakan bendera perdamaian daripada menyerukan seruan perang. Hatinya senantiasa memancarkan kasih sayang, kerinduan dan segala bentuk keutamaan.

Kasih sayang Rasulullah pada kedua cucunya yakni Al-Hasan dan Al-Husin (saudara kandung Al-Hasan), bagaikab curahan air hujan dari langit. Keduanya seterang cahaya, jernihnya air sungai yang mengalir. Imam Al-Hasan lebih mirip kepada Nabi dalm wajahnya.

Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa pada suatu kali Rasulullah pernah datang kepada kami dengan menggending Al-Hasan pada pundak kanan beliau dan Al-Husin pada pundak kirinya, sesekali beliau mencium Al-Hasan dan sesekali pula mencium Al-Husin, sampai setelah beliau tiba di dekat kami, beliau bersabda:"Barangsiapa yang telah mencintai keduanya, maka ia telah mencintai aku, dan barangsiapa yang telah membenci keduanya, maka ia telah membenci aku." 

Tentang Imam Al-Hasan, Rasulullah pernah memberitahukan, bahwa kelak ia akan menjadi pendamai antara dua golongan muslim yang berselisih. Berita ini terbukti setelah beberapa tahun mangkatnya beliau ke hadirat Allah Yang Maha Tinggi. Tepatnya setelah ayahnya ('Ali radhiyallahahu) gugur sebagai syahid. Yaitu ketika penduduk Irak membai'at Imam Al-Hasan sebagai khalifah kaum mukminin yang menurut mereka ia lebih berhak menduduki kursi khalifah, bersamaan dengan itu penduduk Syam telah membai'at Mu'awiyah sebagai khalifah. 

Sehingga hampir saja tak dapat dielakkan peperangan antara penduduk Irak dan penduduk Syam. Ketika itu Imam Al-Hasan berpikir keras untuk menghindari terjadinya peperangan ini, sebab ngerinya perang Shiffin belum hilang dari benaknya, seakan- akan dia masih menyaksikan mayat- mayat yang bergelimpangan, darah yang mengucur dan potongan- potongan tubuh yang berserakan dimana- dimana. hatinya Iba melihat anak- anak yatim dan para janda. baginya perang saudara hanya akan membawa kemelaratan dan kesengsaraan.

Ketika ia sedang berpikir keras mencari jalan keluar dari situasi yang amat sulit ini, tiba- tiba datang surat dari  Mu'awiyah yang isinya menyatakan, bahwa Bani Umayah menawarkan perdamaian, dengan syarat Imam Al-Hasan rela mengundurkan diri dari kursi Khilafah, kemudian jika Mu'awiyah meninggal dunia maka kursi Khilafah itu akan diserahkan kepadanya, jika ia masih hidup.

Lalu imam Al-Hasan mengirimkan surat tersebut setalah membacanya kepada Husein saudaranya yang tinggal di Madinah. Ia merayu saudaranya agar mau menerima usulan perdamaian itu. Disamping itu ia mengumpulkan para pembesar Irak di istana kota kemudian berkata,"Wahai saudara, sungguh kalian telah membai'atku untuk menerima usulan perdamaian dari siapa saja yang mengajakku berdamai, dan memerangi siapa saja yang memerangi aku. Kini aku telah membai'at Mu'awiyah, karena itu taatlah kamu kepadanya."

Penduduk Irak dan Imam Al-Husein menerima semua ini dengan hati pedih, sebab mereka masih mengharapkan ke-Khalifahan tetap berada di tangan keluarga Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa sallam, bukan di tangan bani Umayah. Tetapi Imam Al-Hasan berpandangan lain. Ia menerima semua ini demi untuk mencegah pertumpahan darah diantara sesama kaum muslimin, karena perang Shiffin telah cukup sebagai pelajaran baginya.

Meskipun Imam Al-Hasan telah berusaha sekuat tenaga mencegah terjadinya pertumpahan darah diantara kaum muslimin, yaitu ia rela mengundurkan diri dari kursi khilafah dan ia mau membai'at Mu'awiyah, ternyata keputusannya ini membuat sebagian orang marah kepadanya dan mereka berusaha menindaknya. Berkali- kali ia diberi racun, tapi ia dapat mengobati racun itu. Lalu mereka memasukkan racun itu ke dalam makanannya, sehingga ia merasakan sakit perut yang luar biasa yang membawanya pada kematian. Di saat- saat terakhirnya Al-Husin menanyakan tentang siap yang memasukkan racun ke dalam makanannya, tetapi ia menolak siapa pelakunya sampai ia wafat.

Penduduk Madinah sepakat jenazahnya di makamkan di perkuburan Baqi'. Semoga Allah selalu merahmati Imam Al-Hasan dan Imam Al--Husein sebagaimana sabda beliau bahwa:"KEDUANYA ADALAH  TOKOH KAWULA MUDA DI SYURGA."

(dari Kitab Kehidupan Orang-Orang Sholeh karya Syeikh Abdul Mun'im Qindil)

Bogor, Ba'da Ashar
28 Jumadil Awal 1438H 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar