Sabtu, 25 Februari 2017

IMAM AL-HUSEIN IBNU 'ALI
SEORANG TOKOH PEMUDA DI SYURGA

Cerahnya langit, sucinya alam semesta saat itu dan tercurahnya limpahan rahmat mengiringi detik- detik kelahiran Imam Al-husain di alam semesta ini.

Ketika mendengar kelahiran cucunya, Rasulullah dengan wajah yang sangat cerah sebagaimana kebiasaan beliau jika menerima kabar gembira, segera mendatangi rumah putrinya, Fatimah Zahra. Lalu beliau mengumandangkan azan di telinga kanan si kecil. Saat itu bulan Sya'ban tahun 4 Hijriyah. Dan beliau memberi nama si kecil, Al-Husein, sebuah nama yang belum pernah di pakai oleh bangsa Arab sebelumnya.

Al-Husein dibesarkan di rumah orang tuanya di Madinah Al- Munawarah. Rasulullah sangat mencintainya dan saudaranya. Usamah bin Za'id telah mengisahkan betapa cinta Rasulullah kepada kedua cucunya itu, sebagaimana penuturan beliau:"Pada suatu hari aku mengetuk pintu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam karena suatu keperluan. Beliau keluar dengan memanggul sebuah bungkusan besar yang aku tidak tahu apa isinya, setelah aku menyampaikan keperluanku kepada beliau, maka aku bertanya:"Wahai Rasulullah bungkusan apa yang engkau panggul itu?" Setelah bungkusan itu dibukanya, ternyata itu adalah Hasan dan Husein. Sabda beliau:"Kedua cucuku ini adalah buah hatiku dan buah hati putriku Fatimah. Ya Allah sungguh aku mencintai kedua cucuku ini, karena itu cintailah keduanya, dan cintailah apa saja yang mencintai keduanya."

Husain menghabiskan masa kanak- kanaknya di rumah keluarga terhormat, dimana kakeknya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam seorang pemimpin umat, ayahnya 'Ali bin Abu Thalib adalah kekasih Allah dan Rasulnya, dan ibunya adalah putri Rasulullah dan istri sorang tokoh pejuang dan ibu dari dua tokoh kawula muda di syurga.

Ketika ia berumur enam tahun tujuh bulan tujuh hari, kakeknya Rasulullah shalallahu ''alaihi wa sallam wafat. Pada saat itu Husain menyaksikan kota Madinah Munawarah tengah diliputi kedukaan. Ia menyaksikan betapa sedihnya kaum muslimin, sehingga ada yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan seorang  yang kuat imannya seperti Umar bin Khathab meras amat sulit menerima kenyataan ini. Ia berseru kesana kemari:"Siapa yang mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam wafat, maka aku  akan memenggal lehernya dengan pedangku ini."

Ketika ia memasuki usia remaja, ia bergabung dengan para pejuang. ia menyertai ayahnya dalam peperangan Jamal dan Shiffin dan ketika memerangi kelompok kaum khawarij. ayahnya, 'Ali radhiyallahu 'anhu adalah seseorang yang memiliki ketajaman pemikiran, dan Allahu Ta'ala selalu memberikan ilham kedalam hatinya dalam memecahkan berbagai masalah.

Pada suatu hari 'Ali keluar dari Madinah menuju Kuffah, maka sesampainya di Karbela, ia memandangi bumi itu dengan pandangan yang penuh kesedihan dan ia berkata:"Disinilah tempat terjadinya peperangan saudara diantara kaum muslimin dan di sinilah tempat pertumpahan darah mereka." Tidak ada seorangpun yang menyertainya waktu itu mengerti maksud ucapan 'Ali yang amat menyedihkan itu.

Beberapa tahun kemudian ucapan 'Ali terbukti, dengan adanya peristiwa berdarah yang amat menggoncangkan dunia Islam.

Peristiwa itu terjadi karena perebutan kekuasaan, akhirnya kekhalifahan jatuh ke tangan raja yang zalim sebagaimana hal ini sudah dikabarkan oleh Rasulullah sebelumnya, yaitu ketika Mu'awiyah membai'at dan mengangkat anaknya Yazid.Husain berusaha mencegah peperangan antara orang- orang yang memgangkat Yazid dan kelompok penentangnya.

Meskipun demikian, api pemberontakan tetap menyala dalam jiwa setiap kelompok yang bersaing. Setelah Mu'awiyah meninggal, para pemuda Kuffah mengirimkan surat kepada Husain, yang isinya mengharapkan Husain untuk datang ke Kuffah untuk dibai'at. Tawaran pemuka Kuffah diterimanya dengan hati- hati. Kemudian Husain mengutus anak pamannya, Muslim Ibnu Uqail ke kuffah. Ketika dalam perjalanannya, Muslim Ibnu uqail dibunuh oleh Ubaidilah Ibnu Zaiyad Walikota Bashrah. Peristiwa itu terjadi tanggal 9 Zulhijjah tahun 60H.

Peristiwa pembunuhan Muslim itu terjadi sehari sebelum Husain meninggalkan kota Mekkah menuju Kuffah. Karena itu ia belum mendengar peristiwa pembunuhan Muslim Ibnu Uqail, dan ia baru mendengar setelah ia sampai di Al-Qadisiyah. Pada mulanya ia ingin kembali ke Mekkah, tetapi saudara- saudara muslimnya tetap memaksanya meneruskan perjalanannya, supaya mereka dapat membalas kematian Muslim. ketika itu Husain bersama sembilan puluh orang keluarganya dan para pendukungnya, mereka terdiri dari kaum laki- laki, wanita dan anak- anak.

Peristiwa demi peristiwa terjadi dengan cepat, tiba- tiba dua orang yang dikirim Husain ke Kuffah di bunuh pula oleh Ubaidilah ibnu Ziyad, dimana mereka dikirim ke Mekkah untuk menyampaikan balasan atas surat penduduk kuffah yang hendak membai'atnya. Lalu peristiwa- peristiwa ini memuncak, hingga menyebabkan terbunuhnya husain di medan Karbela, yang menyebabkan beberapa Ahlul Bait, kepalanya dipisahkan dari badannya.lalu kepala- kepala mereka dikirimkan kepada Ubaidilah Ibnu Zaiyad diatas ujung- ujung tombak.

Selanjutnya Ubaidilah mengirim kepala- kepala mereka kepada Yazid di Damaskus. Husain terbunuh di tangan seorang terlaknat, Syamar Ibnu Dzil Jausyan. Kepala Husain itu dikirim berpindah- pindah dari satu daerah ke daerah lain, hingga sampai di Asqalan, maka walikotanya menguburkan kepala itu.

Allah membalas orang- orang yang menganiaya cucu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. Tiga tahun setelah peristiwa itu Yazid meninggal alam keadaan yang paling hina, ia terjatuh dari kudanya ketika ia sedang mengejar seekor kera, hingga kuda itu menginjak lehernya dan kepalanya hingga pecah. Sedangkan Syamar ibnu Jausyan yang membunuh Husain, ia dibunuh oleh Muhtar Ibnu Abu Ubaid Ats-Tsaqafy tokoh golongan Tauwwabinn dan tubuhnya dipotong-potong dan diberikan kepada anjing. Adapun Ubaidilah ibnu Ziyad juga dibunuh oleh Muhtar, jasadnya dibakar. Demikian pula para penganiaya yang lain, mereka semua terbunuh oleh golongan Tawwabin.

Semoga Allah menempatkan para Ahlul Bait Nabi ditempat yang tinggi disisi-nya...Allahumma aamiin.

(Syeikh Abdul Mu'in Qindil, "Kehidupan Orang- Orang Sholeh)
Bogor, 30 Jumadil Awal 1438H  
IMAM AL-HASAN IBNU 'ALI
CUCU DAN KEKASIH RASULULLAH

Kiranya cukup tinggi kedudukannya di dunia dan di akhirat, kemuliaan, pengorbanan, kesucian, ketenangan jiwa dan keselamatan perasaan, adalah akhlak yang mempesona dari cucu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam ini.Ia adalah putra Imam 'Ali dan Fatimah Zahra, saudara kandung Al-Husein, penghulu para syahid. Kedudukan akhlaknya yang tinggi diantara para Shiddiq dan Abrar, ia telah menolak kursi ke- khalifahan bila harus menumpahkan darah syahid. Ia lebih mengutamakan bendera perdamaian daripada menyerukan seruan perang. Hatinya senantiasa memancarkan kasih sayang, kerinduan dan segala bentuk keutamaan.

Kasih sayang Rasulullah pada kedua cucunya yakni Al-Hasan dan Al-Husin (saudara kandung Al-Hasan), bagaikab curahan air hujan dari langit. Keduanya seterang cahaya, jernihnya air sungai yang mengalir. Imam Al-Hasan lebih mirip kepada Nabi dalm wajahnya.

Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa pada suatu kali Rasulullah pernah datang kepada kami dengan menggending Al-Hasan pada pundak kanan beliau dan Al-Husin pada pundak kirinya, sesekali beliau mencium Al-Hasan dan sesekali pula mencium Al-Husin, sampai setelah beliau tiba di dekat kami, beliau bersabda:"Barangsiapa yang telah mencintai keduanya, maka ia telah mencintai aku, dan barangsiapa yang telah membenci keduanya, maka ia telah membenci aku." 

Tentang Imam Al-Hasan, Rasulullah pernah memberitahukan, bahwa kelak ia akan menjadi pendamai antara dua golongan muslim yang berselisih. Berita ini terbukti setelah beberapa tahun mangkatnya beliau ke hadirat Allah Yang Maha Tinggi. Tepatnya setelah ayahnya ('Ali radhiyallahahu) gugur sebagai syahid. Yaitu ketika penduduk Irak membai'at Imam Al-Hasan sebagai khalifah kaum mukminin yang menurut mereka ia lebih berhak menduduki kursi khalifah, bersamaan dengan itu penduduk Syam telah membai'at Mu'awiyah sebagai khalifah. 

Sehingga hampir saja tak dapat dielakkan peperangan antara penduduk Irak dan penduduk Syam. Ketika itu Imam Al-Hasan berpikir keras untuk menghindari terjadinya peperangan ini, sebab ngerinya perang Shiffin belum hilang dari benaknya, seakan- akan dia masih menyaksikan mayat- mayat yang bergelimpangan, darah yang mengucur dan potongan- potongan tubuh yang berserakan dimana- dimana. hatinya Iba melihat anak- anak yatim dan para janda. baginya perang saudara hanya akan membawa kemelaratan dan kesengsaraan.

Ketika ia sedang berpikir keras mencari jalan keluar dari situasi yang amat sulit ini, tiba- tiba datang surat dari  Mu'awiyah yang isinya menyatakan, bahwa Bani Umayah menawarkan perdamaian, dengan syarat Imam Al-Hasan rela mengundurkan diri dari kursi Khilafah, kemudian jika Mu'awiyah meninggal dunia maka kursi Khilafah itu akan diserahkan kepadanya, jika ia masih hidup.

Lalu imam Al-Hasan mengirimkan surat tersebut setalah membacanya kepada Husein saudaranya yang tinggal di Madinah. Ia merayu saudaranya agar mau menerima usulan perdamaian itu. Disamping itu ia mengumpulkan para pembesar Irak di istana kota kemudian berkata,"Wahai saudara, sungguh kalian telah membai'atku untuk menerima usulan perdamaian dari siapa saja yang mengajakku berdamai, dan memerangi siapa saja yang memerangi aku. Kini aku telah membai'at Mu'awiyah, karena itu taatlah kamu kepadanya."

Penduduk Irak dan Imam Al-Husein menerima semua ini dengan hati pedih, sebab mereka masih mengharapkan ke-Khalifahan tetap berada di tangan keluarga Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa sallam, bukan di tangan bani Umayah. Tetapi Imam Al-Hasan berpandangan lain. Ia menerima semua ini demi untuk mencegah pertumpahan darah diantara sesama kaum muslimin, karena perang Shiffin telah cukup sebagai pelajaran baginya.

Meskipun Imam Al-Hasan telah berusaha sekuat tenaga mencegah terjadinya pertumpahan darah diantara kaum muslimin, yaitu ia rela mengundurkan diri dari kursi khilafah dan ia mau membai'at Mu'awiyah, ternyata keputusannya ini membuat sebagian orang marah kepadanya dan mereka berusaha menindaknya. Berkali- kali ia diberi racun, tapi ia dapat mengobati racun itu. Lalu mereka memasukkan racun itu ke dalam makanannya, sehingga ia merasakan sakit perut yang luar biasa yang membawanya pada kematian. Di saat- saat terakhirnya Al-Husin menanyakan tentang siap yang memasukkan racun ke dalam makanannya, tetapi ia menolak siapa pelakunya sampai ia wafat.

Penduduk Madinah sepakat jenazahnya di makamkan di perkuburan Baqi'. Semoga Allah selalu merahmati Imam Al-Hasan dan Imam Al--Husein sebagaimana sabda beliau bahwa:"KEDUANYA ADALAH  TOKOH KAWULA MUDA DI SYURGA."

(dari Kitab Kehidupan Orang-Orang Sholeh karya Syeikh Abdul Mun'im Qindil)

Bogor, Ba'da Ashar
28 Jumadil Awal 1438H 

Rabu, 22 Februari 2017

KEUTAMAAN AL-HAMDU

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari al-Aswad bin Sari', ia berkata:"Aku berkata kepada Nabi
UCAPAN- UCAPAN SALAF TENTANG AL-HAMDU

Diriwayatkan oleh selain Abu Ma'mar, dari Hafsh, ia berkata:"Umar berkata kepada 'Ali dan para Sahabat yang berada di sisinya:"Kami telah mengetahui tentang Laa Ilaaha illaallah, Subhanallaah dan Allahu Akbar. Lalu apa al-hamdulillaah itu?" Maka 'Ali menjawab:"Ia adalah kalimat yang disukai oleh Allah Ta'ala bagi diri-Nya dan Dia meridhoinya bagi diri-Nya serta menyukai kalimat itu diucapkan." (Ibnu Abi Hatim,!/15)

Dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata:"A-hamdulillaah adalah kalimat syukur. Apabila seorang hamba mengucapkan "Alhamdulillaah", maka Allah berfirman:"Hambaku telah memuji-Ku." (Ibnu Abi Hatim)

(Tafsir Ibnu Katsir)

22 februari 2017

Selasa, 21 Februari 2017

TAFSIR IBNU KATSIR

                                AL-FATIHAAH AYAT 2


                      الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Segala Puji bagi Allah Rabb semesta alam." (QS.1:2)

Abu Ja'far bin Jarir berkata:"Makna Alhamdulillaah adalah bersyukur kepada Allah Ta'ala semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepada makhluk yang telah Dia ciptakan, atas segala nikmat yang telah Dia anugrahkan kepada para hambna-Nya yang tidak terhingga jumlahnya.

Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan:"Alhamdulillaah merupakan pujian Allah bagi diri-Nya. Di dalamnya terkandung perintah kepada hamba- hamba-Nya agar mereka memuji diri-Nya, seolah- olah Dia mengatakan:"Ucapkanlah Alhamdulillah."

Ada yang mengatakan bahwa ucapan al-hamdulillaah adalah pujian bagi Allah dengan Nama- Nama-Nya yang husna (baik) dan sifat- sifat-Nya yang 'ulya (tinggi). Adapun ucapan Asy- Syukru lillaah adalah pujian bagi-Nya atas segala nikmat dan pertolongan-Nya." 

Abu Nashr Isma'il bin Hammad al-Jauhari mengatakan:"Al-hamdu (pujian) adalah lawan dari adz-dzammu (celaan).Engkau mengatakan,"Aku memuji seorang Laki- laki dengan sebuah pujian." 
Orang yang memuji adalah hamiid dan orang yang dipuji adalah mahmuud. At- tahmiid memiliki makna lebih daripada al- hamdu.Al- hamdu lebih umum daripada Asy- Syukru.
Dia (Abu Nashr) adalah pujian atas orang yang berbuat kebaikan karena kebaikannya, maka dikatakan:"Syakartuhu" atau"Syakartu lahu" (aku bersyukur kepadanya)."


(Tafsir Ibnu Katsir)

22 februari 2017
NAMA-NAMA ALLAH YANG BOLEH DIBERIKAN KEPADA SELAIN-NYA

Diantara Nama-Nama Allah yang boleh diberikan kepada selain diri-Nya, adalah selain AR-RAHMAAN, AL_KHAALIQ, AR-ROZAAQ dan sebagainya.

Karena itulah, DIA memulai dengan Nama-Nya (yang paling terkenal), yaitu Allah kemudian menyifati-Nya denganAR-Rahmaan, karena Ar-Rahmaan lebih khusus dan lebih dikenal daripada Ar-Rahiim. Nama yang disebut lebih dahulu adalah nama yang paling mulia, karenanya Dia memulai dengan menyebut Nama-Nya yang lebih khusus, dan seterusnya.

Di dalam hadist Ummu Salamah menyebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam biasa memutus bacaan beliau huruf demi huruf (ayat demi ayat): Bismillaahirahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin. Ar-Rahmaanirrahiim. Maalikiyaumiddiin.

Maka sebagian ulamapun membacanya demikian. Tetapi diantara mereka adapula yang menyambungnya.


(Tafsir Ibnu Katsir)

Bogor 22 februari 2017
Nama AR-RAHMAAN KHUSUS BAGI ALLAH


Nama AR-RAHMAAN khusus bagi Allah dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
                      قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ 
Artinya: "Katakanlah:"Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmaan. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai al-Asmaa-ul Husna (Nama- Nama ynag terbaik). (QS.Al-Israa':110)

Dan juga firman-Nya:

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ
Artinya:
          "Dan tanyakanlah kepada Rasul- Rasul Kami yang telah Kami utus sebelummu:"Adakah kami menentukan ilah-ilah untuk diibadahi selain Allah Yang Maha Pemurah?" (QS.Az-Zukhruf:45)

AdapunAr-Rahiim, Allahu Ta'ala telah menyifatkannya kepada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya:"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginnginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang mukmin." (QS.At-Taubah:128)

Sebagaimana Allah telah menyifati selain diri-Nya dengan Nama-Nya yang lain. Sebagaimana firman-Nya:
 إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya:
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS.Al-Insaan :2)


(Tafsir Ibnu Katsir)

Bogor, 22 Februari 2017